Selasa, 29 Januari 2013

perkembangan Islam pada masa NABI SAW Periode MAKKAH



BAB I
PENDAHULUAN
Latarbelakang
Sebagai seorang muslim hendaknya kita mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW baik ketika beliau dalam berdakwah di Makkah dan diangkat sebagai Rasul. Oleh karena itu kami mencoba untuk mengingatkan kembali akan sejarah dan perjalanan Nabi untuk selalu kita contoh dan kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Telah kita ketahui bersama bahwa umat Islam pada saat sekarang ini lebih banyak mengenal figur-figur yang sebenarnya tidak pantas untuk di contoh dan ironisnya mereka sama sekali buta akan sejarah dan kehidupan Rosulullah SAW.
Oleh karena itu kami mencoba untuk membuka, memaparkan tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, dan mudah-mudahan dengan adanya makalah ini menambah rasa kecintaan kita pada Nabi Muhammad SAW.

BAB II
PEMBAHASAN
1.    Kehidupan Rasulullah SAW Sebelum Menerima Risalah
      Nasab dari pihak Ayah, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdi Manaf bin Qushayyi bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Gholib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Mu’iddu bin Adnan[1].
Nasab dari pihak ibu, Muhammad binti Aminah bin Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhroh bin Kilab. Nasab Ayah dan Ibu Nabi bertemu pada kakeknya yang kelima[2].
Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun gajah dinamakan tahun gajah kerena Raja Abraham mengirim pasukan dan gajah dalam jumlah besar ke Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Allah membinasakan mereka dengan mengirim burung ababil kerena memuliakan kelahiran Nabi SAW). Nabi dilahirkan di rumah Abu Thalib perkampungan bani Hasyim. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim, kerena bapaknya Abdullah meninggal dunia ketika perjalanan pulang dari berdagang di Syam dalam usia 18 tahun dan di makamkan di kota Madinah di samping paman-pamannya Ibnu Addi dan Ibnu Hajjar. ketika itu Nabi muhammad SAW masih dalam kandungan Siti Aminah (ibunda beliau) dua bulan. Lalu ia di asuh oleh kakeknya Abdul muthalib. Sesuai kebiasaan orang Arab pada jaman itu, menyerah anak mereka untuk disusui dan dipelihara oleh Arab Badui (orang Arab yang tinggal di pedesaan). Maka ketika mendengar rombongan Bani Sa’id datang ke Makkah, maka siti Aminah menyuruh akan kakeknya Abdul Mutholib untuk mencarikan wanita yang akan menyusui Nabi Muhammad kecil. Maka bertemulah Abdul mutholib dengan seorang wanita bernama Halimah dari Bani Sa’id[3]. Maka jadilah wanita itu tercatat dalam sejarah Islam sebagai ibu susu orang yang paling mulia di muka bumi ini. Selama lima[4] tahun dalam pengasuhan Halimah, Nabi muhammad berkembang dalam pergaulan Bani Sa’id. Maka berkembanglah bahasa Muhammad sesuai lughat Arab Bani Sa’id yang terkenal lughat Arab paling murni, indah dan fasih. Pada masa pengasuhan Halimah ini terjadi peristiwa yang sangat besar yaitu pembelahan dan pembersihan hati Nabi.
Pada usia enam tahun, Muhammad diserahkan kembali kepada ibunya. Dalam rangka untuk memperkenalkan kerabat-kerabatnya di Madinah, Aminah membawa Muhammad ke Madinah[5]. Ketika sampai di sana Aminah mengajaknya berziarah ke tempat ayahnya dimakamkan. Aminah jatuh sakit di sebuah desa yang bernama Abwa[6], di sinilah akhirnya Aminah wafat dan dimakamkan. Si kecil Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Ummu Aiman seorang budak yang dengan setia menemani Muhammad dan yang mengasuhnya.
Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat dan mengasuh Nabi Muhammad. Namun, dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal dunia karena renta. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Seperti juga Abdul Muthalib (sang kakek), dia sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Mekkah secara keseluruhan, tetepi dia miskin.
Dalam usia muda, Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekkah. Melalui kegiatan pengembalaan ini dia menemukan tempat untuk berpikir dan merenung. Dalam suasana demikan, dia ingin melihat sesuatu di balik semuanya. Pemikiran dan perenungan ini membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda ia  sudaah di juluki Al-Amin, orang yang terpecaya.
Pada usia dua belas tahun, Muhammad menemani paman pergi ke Syam (sekarang Syria). Dalam perjalanan tersebut ia bertemu seorang pendeta Kristen bernama Bahra yang menyakini Muhammad sebagai calon Rasul terakhir. Kerena sebab itulah, sang pendeta menyampaikan pesan kepada Abu Thalib agar menjaga kemenakannya dengan baik.
Pada usia itu pula terjadi peperangan dahsyat yang melibatkan hampir seluruh suku-suku Arab, termasuk Bani Hasyim. Muhammad turut menyertai pamannya dalam peperangan tersebut, sekalipun ia tidak turut terlibat secara langsung, namun ia turut membantu mengumpulkan mata panah yang dilemparkan oleh musuh, lalu menyerahkannya kepada Abdul Thalib.
Pada saat itu, Muhammad cendrung bersikap sebagai pengamat peperangan. Ketika ia menyaksikan jumlah korban jiwa yang besar akibat peperangan saudara tersebut, maka selanjutnya ia memprakasai pembentukan komite perdamaian yang disebut Halful Fuzul, yang merupakan himpunan kerja sama kaum muda. Tujuan utama himpunan ini adalah berupaya menciptakan perdamaian dan untuk menjalin kerukunan antar suku-suku di Mekkah[7].
Khadijah, menurut riwayat Ibnu ‘I-Atsir dan Ibnu Hisyam, adalah seorang pedagang yang mulia dan kaya. Beliau sering mengirim orang kepercayaannya untuk berdagang. Ketika beliau mendengar kabar kejujuran Nabi SAW dan kemuliaan akhlaknya, beliau coba mengamati Nabi SAW dengan membawa dagangannya ke Syam. Khadijah membawakan barang dagangan yang lebih baik dari apa yang dibawakan kepada orang lain. Dalam perjalanan ini Nabi SAW ditemani Maisarah, seorang kepercayaan Khadijah. Muhammad SAW, menerima tawaran ini dan berangkat ke Syam bersama Maisarah  meniagakan harta Khadijah.

Dalam perjalanan ini Nabi berhasil membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah bertambah terhadapnya. Selama perjalanan tersebut Maisarah sangat mengagumi akhlak dan kejujuran Nabi. Semua sifat dan prilaku itu dilaporkan oleh Maisarah kepada Khadijah. Khadijah tertarik pada kejujurannya, dan ia pun terkejut oleh barakah yang diperolehnya dari perniagaan Nabi SAW.
Kemudian Khadijah menyatakan hasratnya untuk menikah dengan Nabi SAW dengan perantaraan Nafisah binti Muniyah. Nabi SAW menyetujuinya, kemudian Nabi SAW menyampaikan hal itu kepada paman-pamannya. Setelah itu, mereka meminangkan Khadijah untuk Nabi SAW dari paman Khadijah, Amr bin Asad. ketika menikahinya, Nabi berusia dua puluh lima, sedangkan Khadijah berusia empat puluh tahun. Sebelum menikah dengan Nabi saw, Khadijah pernah menikah dua kali. Pertama dengan Atiq bin A’idz at-Tamimi, dan yang kedua dengan Abu Halah at-Tamimi; namanya Hindun bin Zurarah[8].
Rasulullah saw. Sebelum bi’tsah  pernah ikut serta dalam pembangungan ka’bah dan pemugarannya. Beliau ikut serta secara aktif mengusung batu di atas pundaknya[9]. Pada waktu itu beliau berusia 35 tahun, menurut riwayat yang paling shahih. Beliau memiki pengaruh besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan antar kabilah tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan hajar aswad di tempatnya. Semua pihak tunduk kepada usulan yang diajukan Nabi saw., kerena mereka semua mengenalnya sebagai al-amin (terpercaya) mencintainya.
Mendekati usia empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri Nabi saw kecenderungan untuk melakukan ‘uzlah. Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtila (menyendiri) di gua Hira’ (Hira’ adalah nama sebuah gunung yang terletak di sebelah barat laut kota Makkah). Beliau menyendiri dan beribadah di tersebut selama beberapa malam. Kadang sampai sepuluh malam, dan kadang lebih dari itu, sampai satu bulan. Kemudian beliau kembali ke rumahnya sejenak hanya untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan ikhtila’nya di gua Hira’. Demikianlah Nabi saw terus melakukannya sampai turun wahyu kepadanya ketika beliau sedang melakukan ‘uzlah.
2.        Sistem Dakwah Rosululloh Saw. di Makkah
Kehidupan bangsa Arab sebelum masuknya Islam:
1.      Musyrik, mereka menyembah berhala.
2.      Membunuh anak-anak mereka kerena takut akan kelaparan dan kemiskinan.
3.      Mengubur anak prempuan mereka hidup-hidup kerena takut aib.
4.      Senang berperang walaupun masalahnya sepele.
Menjelang usianya yang ke 40, dia sudah terlalu terbiasa memisahkan diri dari kegalauan masyarakat, berkontemplasi ke gua hira, bebarapa kilometer di utara kota mekah. Disana Muhammad mula-mula ber jam-jam kemudian berhari-hari bertafakur. Pada tanggal 17 ramadhan tahun 611 Masehi, malaikat jibril muncul menyampaikan wahyu Allah yang pertama :
Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah mencipta. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu itu maha melihat. Dia telah mengajar dengan kalam. Dia telah mengajar manusia apa yang mereka tidak ketahui ( QS Alaq : 1-5 )
Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih Allah sebagai Rasul, dia belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada agama. Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama sementara Nabi Muhammad SAW menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira'.
Dalam proses penantian Jibril, turun wahyu yang membawa perintah kepada Rasulullah. Wahyu itu itu berbunyi sebagai berikut :
Hai orang yang brselimut bangun, dan beri ingatlah. Hendaklah engkau besarkan Tuhanmu dan bersihkanlah pakaianmu, tinggalkan perbuatan dosa dan janganlah engkau memberi ( dengan maksud ) memperoleh ( balasan ) yang lebih banyak dan untuk ( untuk memenuhi perintah ) Tuhanmu bersabarlah. ( Al- Muddatsir 1-7 ).
Dengan turunnya perintah itu mulailah Rasulullah berdakwah. Pertama-tama, beliau melakukannya secara diam-diam di lingkungannya sendiri, keluarga, dan sahabat-sahabat beliau yang paling karib. Mereka di seru kepada pokok-pokok agama Islam yang disebut dalam ayat-ayat diatas yaitu, bertauhid kepada allah dan meninggalkan ilah dan berhala-berhala yang mereka sembah.
Nabi  Muhammad Saw. pada periode Mekkah menggunakan strategi dakwah,antara lain :
1.       Dakwah secara sembunyi-sembunyi
Cara ini ditempuh karena beliau begitu yakin  bahwa masyarakat arab jahiliyah masih sangat kuat mempertahankan kepercayaan dan tradisi warisan leluhur. Mereka bersedia berperang dan rela mati dalam mempertahankanya demi tradisi leluhurnya tersebut. Dan Nabi Muhammad takut terkejutnya mereka akan perkara yang belum pernah mereka ketahui dan meraka dengar.
Setelah Nabi Muhammad menerima risalah kenabian pada usia 40 tahun, mulailah Nabi mendakwahkan ajaran Islam di tengah-tengah ketersesatan masyarakat Makkah. Ajaran dakwah Nabi Muhammad yang paling pokok adalah keyakinan kepada Allah yang Maha Esa (tauhid).
Allah adalah pencipta alam semesta ini. Allah adalah yang memberi kehidupan dan tempat kembali setelah kematian. Bahwa tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya. Bahwa masyarakat Makkah harus meninggalkan penyembahan berhala. Muhammad tidak mengajak mereka kecuali kebajikan dan kesalehan.
Mula-mula istrinya sendiri, Khadijah, kemudian saudara sepupunya Ali bin Abi Thalib yang beru berumur 10 tahun. Kemudian Abu Bakar sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Lalu Zaid, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya. Ummu Aiman, pengasuh Nabi sejak ibunya Aminah masih hidup. Banyak orang-orang yang menerima seruan Nabi melalui perantara Abu Bakar. Mereka dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun . Mereka ialah Usman bin Affan, Zubair ibnu Awwan, Sa'ad ibnu Abu Waqqas, Abdurrahman ibnu Auf, Talhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah ibnul Jarrah, dan Arqam ibnu Abu Arqam.
Mereka ini bertemu Nabi secara rahasia. Apabila salah seorang di antara mereka ingin melaksanakan salah satu ibadah, ia pergi ke lorong-lorong Makkah seraya bersembunyi dari pandangan orang-orang Quraisy. Pengikut Nabi semakin bertambah jumlahnya dalam 3-4 tahun masa dakwah Nabi tercatat 40 orang yang beriman. Rasulullah memilih rumah al-Arqam bin Abi ‘Irqam, sebagai tempat pertemuan untuk mengadakan pembinaan dan pengajaran.
 2.      Dakwah Secara Terang-terangan
Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk melakukan dakwah secra terang-terangan.
Dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Hijr: 94 yang artinya:
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ. وَاَعْرِضْ عَنِ المُشْرِكِيْنَ
“Maka sampaikanlah olehmu  secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”.
Dalam dakwah secara terang-terangan Rosullullah menggunakan srategi-srategi  sebagai berikut:
a.         Mengundang kaum kerabat keturunan dari bani Hasyim, untuk menghadiri  jamuan  makan dan mengajak mereka masuk islam.
b.         Mengumpulkan para penduduk Mekkah terutama yang berada di tempat tinggal disekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shofa.
Menyampaikan seruan dakwah kepada para penduduk di luar kota Mekkah.
Dakwah Nabi secara terang-terangan ditentang dan ditolak oleh bangsa Quraisy,  Dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meningggalkan agama yang telah mereka warisi dari nenek moyang mereka, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan mereka.
Pada saat itulah Rasulullah mengingatkan mereka akan perlunya membebaskan pikiran dan akal mereka dari belenggu taqlid. Ketika Nabi SAW mencela tuhan-tuhan mereka, membodohkan mimpi-mimpi mereka, dan mengecam tindakan taqlid buta kepada nenek moyang mereka dalam menyembah berhala, mereka menentangnya dan sepakat untuk memusuhinya, kecuali pamannya Abu Thalib yang membelanya.
Kaum Quraisy  menolak dan berusaha menghentikkan dakwah Rasulullah dengan berbagai cara :
1.      Terhadap budak-budak yang telah masuk Islam, tuan-tuannya wajib untuk menghukum dan menyiksanya.
2.      Melempari Nabi Muhammad Saw dengan kotoran dan isi perut kambing.
3.      Mengusulkan kepada Nabi Muhammad Saw agar permusuhan dihentikan dengan cara suatu saat orang kafir Quraisy mengikuti ibadah orang Islam, tetapi orang Islam di lain waktu harus mengikuti ibadah mereka.
Namun semua itu tidah berhasil menghentikan dakwah Rasulullah, bahkan tantangan-tantangan yang berat lagi dilakukan oleh kaum Quraisy untuk menghentikan dakwah Rosullullah Saw. Diantaranya adalah Pemboikotan keluarga Nabi SAW dan pengikutnya, dan upaya pembunuhan terhadap  Rosullullah Saw.
Setelah dakwah terang-terangan itu pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Rasul. Semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi, semakin keras tantangan yang dilancarkan kaum Quraisy.
Faktor-faktor yang mendorong Quraisy menentang seruan Islam
Menurut Ahmad Syalabi, Dengan mempelajari dan mengerti bagaimana kehidupan bangsa Arab, dapatlah kita menyimpulkan sebab-sebab yang mendorong kaum Quraisy menentang agama Islam yaitu sebagai berikut :
1.      Persaingan merebut kekuasaan
Kaum Quraisy tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan, atau antara kenabian dan kerajaan. Mereka mengira tunduk kepada agama Muhammad berarti tunduk kepada kekuasaan Abdul Muthalib. Sedangkan suku-suku bangsa arab selalu bersaingan untuk merebutkan kekuasaan dan pengaruh. Sebab itu bukanlah hal yang mudah bagi kaum quraisy untuk menyerehkan kepemimpinan kepada Muhammad karena menurut mereka berarti suku-suku bangsa arab akan kehilangan kekuasaan dalam masyarakat.
2.      Penyamaan antara hak antara kasta bangsawan dan kasta hamba sahaya
Bangasa arab hidup dengan system kasta, tiap-tiap manusia digolongkan dalam kelompok kasta yang tak boleh dilampauinya. Tapi seruan nabi Muhammad membrikan hak yang sama kepada manusia, yang merupakan suatu dasar yang penting dalam agama islam, agama islam memandang sama antara hamba sahaya dengan tuannya.
3.      Takut dibangkitkan dari alam kubur
Agama Islam mengajarkan bahwa pada hari kiamat manusia akan dibangkitkan dari dalam kuburnya dan semua amal pernebuatan manusia akan di hisab, orang-orang yang berbuat baik maka Allah akan membalasnya dengan surga akan tetapi orang yang berbuat jahat akan dibalas dengan neraka. Kaum Quraisy tidak dapat menerima agam Islam yang mengajarkan manusia akan dibangkitkan kembali sesudah mati.
4.      Taklid kepada nenek moyang
Para kaum Quraisy taklid secara membabi buta terhadap nenek moyangnya dan mengikuti langkah-langkah mereka dalam prersoalan peribadatan dan tingkah laku adalah suatu yang telah berurat dan berakar pada bangsa Arab. karena itu, sangat beratlah terasa bagi mereka meninggalkan agama nenek moyang dan mengikuti agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka berkata: “Apabila dikatakan kepada mereka” Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul. “Mereka menjawab: cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa dan tidak pula mendapat petunjuk?
5.      Memperniagakan patung
Salah satu dari usahaa orang Arab dahulu adalah memahat patung yang menggambarkan Latta, Uzza , Manna , dan Hubal. Patung-patung itu mereka jual kepada Jamaah Haji, mereka membelinya supaya mendapat berkat atau untuk kenang-kenangan. Tetapi agama Islam melarang menyembah memahat dan menjual patung, karena itu saudagar-saudagar patung memandang agama Islam sebagai penghalang rezeki mereka, oleh karena itu, mereka menentang agama Islam.
Fase-fase tantangan Quraisy terhadap agama Islam
Pada permulaan Islam, kaum Quraisy belumlah mencurahkan perhatiannya terhadap umat Islam mereka mengira bahwa seruan Nabi Muhammad itu hanya satu gerakan yang tidak akan bertahan lama untuk akan lemah dan akan punah dengan sendirinya. Akan tetapi, alangkah terkejutnya mereka melihat dengan cepat memasuki kehidupan rumah tangga mereka dan hamba sahaya yang dulu mereka anggap derajatnya terlebih sebagai harta benda telah menerima pula seruan itu dan telah menerima pula seruan itu dengan baik. Pertama sekali mereka halangi para hamba sahaya dan orang-orang yang lemah seperti Yasir dan putranya Ammar serta istrinya Summayyah, begitu juga Bilal, Habab Ibnu Haris dan lainnya mendapat siksaan yang berat diluar prikemanusiaan. Akan tetapi Nabi SAW tidak mendapatkan siksaan karena Bani Hasyim memiliki kedudukan yang tinggi pada pandangan mereka dan Rasul sendiri mendapat perlindungan dari pamannya Abu Thalib. Akan tetapi, seruan Nabi bertambah tersiar dan bangsawan Quraisy mulai banyak yang masuk.
Ketika Nabi SAW melihat pada yang dialami para sahabat atas gangguan dan siksaan dari para kafir Makkah, Nabi SAW memerintah para sahabatnya untuk hijrah ke Habasah, pada tahun itu berangkatlah 10 laki-laki dan 5 perempuan, diantaranya Usman bin Affan dan istrinya Roqaiyah binti Rasulullah SAW. Setelah tiga bulan mereka pulang kerena gangguan negri tersebut dan sedikitnya jumlah mereka. Inilah awalnya hijrah dalam Islam.
Pada tahun kelima kenabian, dua pembesar Quraisy yang terkenal dengan kekuatan dan keberaniannya, yaitu Umar bin Kattab dan Hamzah bin Abdul muthtalib. Nabi dan umat Islam sangat senang dengan masuknya dua orang tersebut kerena Islam mulai menjadi kuat.
Setelah Nabi dibaikot, Nabi SAW menyuruh para muslimin hijrah ke Habasah untuk kedua kali pada tahun ketujuh kenabian. Pada tahun ini, berhijrah, 73 laki-laki dan 11 perempuan.  Mereka bertemu dengan  orang-orang Islam Yaman.
Dengan cacatan sejarah, Kaum Quraisy tidak berani menyakiti Nabi Muhammad SAW, karena beliau mendapatkan perlindungan dari pamannya Abu Thalib yang sangat disegani oleh kaum Quraisy. Abu Thalib memiliki pribadi yang sangat khas yaitu di satu sisi membenarkan islam membela keponakannya. Namun pada kenyataannya tidak pernah mengikuti apa yang dibelanya sampai ia meninggal. Setelah istrinya Khodijah  meninggal dunia demikian juga pamannya. Kaum Quraisy meningkatkan perlawananya terhadap dakwah nabi Muhammad Saw. Tahun itu disebut dengan tahun kesedihan atau ‘Amul Khuzni. Kaum Quraisy memboikot kaum muslimin dengan  menggantungkan piagam diatas ka’bah, agar  mereka tidak berhubungan dengan kaum muslimin dan keluarga Nabi.
Setelah kematian paman dan istri beliau, kaum Quraisy menambah gangguan dan siksaan kepada Nabi Saw. Maka beliau melakukan hijrah ke tha’ib dengan ditemani zaid bin Tsabit. Namun nabi SAW tidak mendapat sambutan yang baik, malah Nabi mendapat penduduk  negri tersebut.
Pada tahun 11 dari kenabian, untuk memuliakan dan mengobati kesedihan Nabi yang ditinggal dua orang yang sangat dicintai beliau. Allah SWT memuliakan beliau dengan isra dan mi’raj. Isra adalah menujunya Nabi SAW pada waktu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqso. Mi’raj addalah naiknya Nabi SAW ke alam tertinggi bertemu dengab Allah. Pada waktu itu turunlah kewajiban sholat. Pada malam itu Nabi SAW ditemani Jibril.
Pada tahun 11 juga datang rombongan berjumah enam orang dari yastrib untuk melakukan haji. Mereka bertemu dengan Rasulullah, dan mereka memba’iat beliau dengan syarat:
a.       Tidak mensekutukan Allah.
b.      Tidak mencuri.
c.       Tidak berzinah.
d.      Tidak membunuh anak-anak mereka.
Kejadian ini disebut Bai’ah Aqobah al-Ulaa. Selain itu Nabi juga mengirim orang yang akan melajarkan Islam kepada kaum mereka.
Pada tahun 13 kenabian, datang 73 orang laki-laki dan 2 orang perempuan dari arab Madinah ke Makkah untuk melaksanakan haji. Mereka juga bertemu dengan Rasulullah dan membai’at beliau dengan landasan bahwa mereka menyembah Allah dan mereka menawarkan perlindungan kepada Nabi jika beliau bersedia hijrah bersama mereka. Kejadian ini disebut Bai’ah Aqobah Tsani.
Ketika mengetahui kaum Quraisy tersebarnya Islam ke Madinah, mereka semakin keras menyiksa kaum muslim di Makkah. melihat demikian, Rasulullah memerintahkan para muslimin Makkah untuk berhijrah ke Madinah. Para muslimin akkah pun pergi dengan diam-diam kerena mereka takut apabila kaum Quraisy melihat, mereka akan menghalang-halangi dan mencegah.
Ketika mendengar para muslimin Makkah telah berhijrah dan adanya pertolongan untuk orang Islam dari Arab Madinah, kaum Quraisy merencanakan pembunuhan kepada Nabi SAW, maka Allah memerintahkan kepada beliau untuk berhijrah juga. Dengan ditemani Abu Bakar beliau berangkat ke Madinah setelah terlepas dari rencana pembunuhan. Namun tidak mudah bagi nabi untuk berhijrah, setelah mengetahui kaum akan lepasnya Nabi dari pembunuhan. Mereka tidak menyerah sampai di situ, tapi mereka mengirim pasukan untuk menangkap Rasulullah baik hidup atau mati. Namun kehendak Allah yang berlaku, Nabi SAW dan Abu Bakar tiba dengan selamat dan sambutan yang luar biasa dari penduduk Madinah.
Nabi memilih kota Madinah ( Yastrib ) sebagai tempat hijrah kaum Muslimin, dikarenakan beberapa faktor antara lain :
  1. Madinah adalah tempat yang paling dekat dengan Makkah
  2. Sebelum jadi Nabi, Muhammad telah mempunyai hubungan yang baik dengan penduduk Madinah karena kakek nabi, Abdul Mutholib, mempunyai istri orang Madinah
  3. Penduduk Madinah sudah dikenal Nabi bahwa mereka memiiki sifat yang lemah lembut
  4. Nabi Muhammad SAW mempunyai kerabat di madinah yaitu bani Nadjar




BAB III
PENUTUP
a.      Kesimpulan
Makkah  adalah  salah satu tempat mulia menurut Islam, bahkan sebelum datangnya Islam. Ditambah lagi dengan lahirnya orang yang paling mulia.
Melihat sejarah dari lahirnya Nabi SAW, kita dapat mengambil ibroh beginilah kehidupan  beliau hingga menjadi Rasul dan  kesabaran beliau dalam berdakwah, walaupun  gangguan datang silih berganti beliau tidak gentar. Dan dapat kita lihat juga, seseorang yang berdakwah, selalu di tentang oleh orang-orang yang berdekatan dengannya tapi malah orang yang  jauh mendukungnya.
b.      Saran-saran
Semoga dengan adanya makalah  ini, teman-teman dapat mengetahui bagaimana awal dakwah  yang dilakukan oleh Nabi agar kita bertambah cinta dengan beliau. Jangan pernah bosan untuk mempelajarinya, kerena di dalamnya terdapat ilmu­-ilmu. Terakhir, marilah kita teladani kehidupan beliau semampu kita

DAFTAR PUSTAKA
1.      Ali, K. 2003. SEJARAH ISLAM (Tarikh Pramodern). Jakarta: PT RajaGrafindo persada.

2.      Sa’id, Muhammad. 1995. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Robbani Press.

3.      Yatim, Badri. 2007. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo persada.

4.      Abdul Jabbal, Umar. Kholasah Nurul Yaqin. Surabaya: maktabah Salim bin Said Nabhan.

5.      Al-Hidhri, Muhammad. 2003. Nurul Yaqin. Bairut: darul fikr.


[1] Muhammad al-Hidhri. 2003. Nurul Yaqin. hal 5.
[2] Umar Abdul Jabbal. KHOLASAH NURUL YAQIN. Surabaya: maktabah Salim bin Said Nabhan. hal 6.
[3] Sebelumnya Nabi  pernah menyusu dengan Tsuaibatul Aslamiyah. Umar Abdul Jabbal. Kholasah Nurul Yaqin. hal 7.
[4] Dalam riwayat lain 6 tahun
[5] Dalam riwayat lain Abdul Muthalib ikut menyertai dalam perjalanan tersebut
[6] Sebuah desa antara Makkah dan Madinah
[7]  Ali. K. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern). hal 41.
[8] Muhammad Sa’id Ramadhan al Buthi, SIRAH NABAWIYAH, (jakarta: Robbani Press, 1995, cetakan ketujuh) hal. 60.
[9] Kaum arab berselisih siapa yang berhak meletakan hajar aswad, hampir-hampir mereka berperang hingga ada usulan siapa yang terdahulu masuk pada waktu subuh ke mesjid, ia yang berhak meletakan hajad aswad ketempatnya. Ternyata mereka memperdapati Nabi Muhammad, semuanya ridho dengan beliau. Kemudian nabi membentang selendangnya dan meletakan hajar aswad di atasnya. Beliau menyuruh para pemuka suku mengangkat masing-masing ujung selendang beliau. Kemudian nabi mengangkat dan meletakan hajar aswad dengan tangannya yang mulia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar